SMARTAXATIONING.COM, Jakarta – Insentif pajak yang ditawarkan pemerintah tidak menarik bagi investor. Sepanjang 2017, para investor tidak memanfaatkan fasilitas tax holiday (libur pajak) dan tax allowance (pengurangan pajak). Sebab persyaratan untuk mendapatkan fasilitas tersebut dinilai masih memberatkan.

Menurut Sri Mulyani, insentif tidak diminati ada kemungkinan di­anggap kurang menarik. Bisa juga sektor industri lebih mem­butuhkan jenis insentif lain.

Ani mengaku, telah menginstruksikan kepada Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jen­deral Bea dan Cukai, dan Badan Kebijakan Fiskal untuk mengkaji kebijakan fiskal yang tepat agar sektor produksi bisa didorong.

Sebab, menurutnya, insentif ini sangat penting untuk menjaga momentum investasi. Di mana pertumbuhannya mencapai 7,1 persen pada kuartal III-2017.

Pada tahun ini, lanjut Ani, pemerintah berharap investasi yang tercermin dalam komponen Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) terhadap Produk Do­mestik Bruto (PDB) bisa kem­bali tumbuh 7 persen, atau lebih baik dibanding pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang ditarget 5 persen.

“Kami ingin pajak bisa men­jadi insentif produksi, namun penerimaan pajak pun ke depan bisa tetap terjaga,” harapnya.

Sekadar informasi, aturan terbaru mengenai tax holiday dimuat di dalam Peraturan Men­teri Keuangan (PMK) Nomor 159 Tahun 2015 sebagai peng­ganti ketentuan sebelumnya, yakni PMK 130 Tahun 2011. Sementara itu, aturan mengenai tax allowance tercantum di da­lam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2016 sebagai pengganti PP Nomor 18 Tahun 2015.

Sumber: rmol.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here