SMARTAXATIONING.COM, Jakarta — Wacana pengenaan pajak untuk bisnis startup teknologi dirasa memberatkan Startup.

Plug and Play (PnP) Indonesia, perusahaan akselerator asal Silicon Valley, mengingatkan pemerintah bahwa startup adalah perusahaan rintisan.

“Startup itu kan perusahaan rintisan yang baru mulai dan belum besar, kalau bisa ada keringanan pajak atau insentif untuk startup ini,” ujar Wesley Harjanto, President Director PnP Indonesia saat ditemui di Djakarta Theater XXI.

Wesley juga mengingatkan pemerintah bahwa pelaku bisnis startup sebagian besar anak muda yang sedang merintis usaha. Jika pajak terlalu tinggi menghajar mereka di awal perintisan usaha, kreativitas dan semangat merintis usaha startup akan terhambat.

“Janganlah pendapatan baru sedikit, tetapi sudah dikenakan pajak terlalu besar,” imbuh Wesley.

Pemerintah kini, tengah menyiapkan aturan dan insentif keringanan pajak bisnis startup. Salah satunya adalah membebaskan pajak dari startup yang pendapatannya tidak lebih dari 4,8 miliar rupiah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan bahwa pemerintah akan memberlakukan sistem aturan tersebut. Namun sejauh ini Sri Mulyani belum bisa banyak bicara mengenai itu.

Sebelumnya, Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Direktorat Jenderal Pajak Hestu Yoga Saksama menyatakan, aturan pajak tersebut akan tetap mengacu aturan pajak bagi badan usaha, yaitu dipungut Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Agar tidak membebani perusahaan startup seperti e-commerce, pemerintah baru memungut pajak PPh bila pendapatannya melebihi 4,8 miliar rupiah atau di atas batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

DJP menyatakan aturan pajak tersebut diusahakan rampung akhir September ini atau paling lama, akhir tahun nanti.

Rata-rata startup digital lebih fokus membesarkan valuasi perusahaan dan meraup pangsa pasar besar secepat mungkin. Alhasil, di periode awal operasional, startup cenderung lebih banyak besar pengeluaran.

“Kita kan kebanyakan di awal membesarkan valuasi bukan cash flow dan minim penghasilan.” ujar Azka Slimi, salah seorang pelaku bisnis startup.

Sumber: cnnindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here